Faihana hikari firdaus Corporation

Just another WordPress.com site

FIGUR ORANG TUA DI MATA ANAK

Liburan lebaran tahun ini sungguh terasa menyenangkan.  Baru kali ini diriku bertemu dengan teman-teman SMPku dulu setelah sekian puluh tahun berpisah. Sungguh sangat menyenangkan mempunyai teman-teman yang hangat dan terbuka, tidak berbatas pada siapa dan bagaimana dia dalam bentuk yang sewajarnya. Selama dua minggu Fathi dan Faiha berpisah dengan abinya. Fathi dan Faiha masih berlibur di tempat eyangnya di Solo, sedang abinya harus bekerja ke Jakarta. Baru setelah dua minggu terlewat abinya menjemput kami bertiga u kembali ke Jakarta.

Selama liburan ini ada sebuah pengalaman tentang pentingnya kehadiran ayah maupun ibu di tengah anak-anak. Sepupunya Fathi yang berada di desa, ditinggal ayahnya bekerja ke luar negeri, sudah 16 bulan berlalu. Secara tidak sengaja aku berbincang dengan sepupuku yang suaminya bekerja di luar negeri tersebut.

A :” Kehidupan di sana bagaimana? biaya hidup bagaimana?”

S : “Sama saja kok dengan di sini. Biaya hidup juga hampir sama, ga jauh beda. Misal waktu beras di sini 7ribu disana 8 ribu.”

A :” ooooo, ga jauh beda ya… ga ingin ikut ke sana? Nanti kalau pulang, balik lagi ga?”

S : ” Ya itu, kemarin itu awalnya kalau dah 1 tahun mo pulang.trus kami semua mo ikut ke sana. Tapi ya itu, mbahnya yang susah..Mbah sini ga boleh, mbah dari ayahnya ga ada teman. Ga tahu lah tar balik lagi ga liat sikon”

A: ” Wah, padahal kan pengalaman juga ya untuk anak-anak.” Aku sangat semagat mendukung untuk ikut ke luar negeri sama anak-anaknya.

S: ” Iya aku juga kasihan ma anak-anak… Kehilangan figur seorang ayah”

A : ” Memang keliatan gitu?” Tanyaku antusias

S : ” Banget.. Dulu, waktu ada ayahnya, sama pakdhe-pakdhenya ga mau..sekarang kalau pakdhenya kemana ingin ikut, ga mau ditinggal. pokoknya berubah 180 derajat.”

A: ” Masa'” Padahalnya sepupuku ini setiap waktu setiap saat selalu kontak dengan suaminya begitu pula anaknya.

Aku jadi teringat peristiwa beberapa hari setelah abinya Fathi ke Jakarta. Fathi dan Faiha yang biasa ga begitu dekat dengan omnya (adikku) sekarang begitu dekatnya. Setiap malam Fathi ingin tidur di kamar omnya. Nanti kalau tertidur akan diangkat omnya pindah ke kamarku. Terkadang kalau habis mandi dan omnya ada, Fathi minta dipakaikan bajunya oleh omnya. Kalau omnya pulang kerja akan teriak-teriak kegirang seperti kalau di Jakarta abinya baru pulang kerja. Suatu hari Omnya Fathi akan ke kondangan. Tidak seperti biasa kalau kerja berangkat pagi dan Fathi Faiha pun salaman cium tangan ke omnya. Kali ini Fathi tidak mau salaman dengan omnya dan hanya terdiam dibalik pegangan kursi. Tahu omnya berangkat tidak seperti biasa, malam hari, dan Fathi pun tidak mau ditinggal oleh omnya. Begitu juga Faiha.. Dalam wajah mungilnya terlukis penolakan untuk ditinggal pergi omnya, tapi Faiha masih mau salaman dengan omnya. Apakah ini yang namanya Fathi dan Faiha telah kehilangan Figur ayahnya dan mencari mengganti figur yang lain.. Walau ada ummahnya tapi tetap saja seorang anak membutuhkan 2 figur yang berlainan, Ayah dan Ibu..Sedang figur kakek dan nenek akan dianggap sebuah figur yang beda dengan faktor usia dan kasih sayang berbeda.

Baru dua minggu ditinggal abinya, rasanya memang ada yang berubah. Fathi dan Faiha yang begitu lengket dengan omnya. Waktu abinya datang beberapa keinginan masih tertumpu pada omnya seperti memakai baju sehabis mandi, bahkan Faiha sempet bingung ketika abinya datang, mungkin dalam benah Faiha “Ini siapa, kok aku sangat hapal dan akrab dengannya. tapi aku lupa” karena Faiha masih tidak mau dengan abinya tapi melihat terus ke arah abinya.

Tiba saatnya kembali ke Jakarta.  Fathi sangat senang dengan kereta dan kami pun memilih menggunakan kereta untuk kembali  ke Jakarta. Omnya Fathi pun ikut ke stasiun karena eyangnya Fathi ikut mengantar kami. Kami ke stasiun memang tidak terlalu mepet waktu pemberangkatan kereta. Maka masih banyak waktu untuk mengobrol di dalam gerbong dengan eyang dan om. Setelah waktu kurang beberapa saat lagi kereta akan diberangkatkan, eyang dan om turun dari kereta. Tapi tidak diduga, Fathi teriak-teriak ingin ikut omnya . Fathi terasa begitu kehilangan…mukanya mulai bimbang dan sedih

A : “Fathi ingin ikut Om ?”

Fathi pun mengangguk

A : ” Tapi om vintus di Solo. Ummah dan abi mau ke jakarta. Fathi ga ingin ke Jakarta ma ummah dan abi? Fathi mau ikut om saja?

Kembali Fathi mengangguk

Beberapa kali ditanya dan ditegaskan… Fathi mulai bimbang…mungkin Fathi bingung…”aku akan ikut siapa? aku harus ikut siapa?” Ini baru 2 minggu berpisah dari abinya.. sungguh anak-anak sangat tidak tahan untuk tidak memiliki figur dari seorang ayah adan ibu.

Maka sering kali kita lihat kenapa anak-anak bisa “nakal”, anak-anak bisa “brutal” dalam keadaan yang sudah tidak wajar atau lazim… Apakah memang mereka telah kehilangan figur ayah dan ibu mereka?

Terbayang dikalau abinya libur, bisa dikatakan aku menjadi pengangguran dalam mengurus anak, karena Fathi dan Faiha lebih senang diladeni abinya, yang selama 5 hari dalam seminggu abi selalu berangkat pagi pulang malam, belum kalau lagi ada tugas dan harus tidak pulang ke rumah dalam beberapa hari.. Belum lagi dikalau abinya baru pulang dari kerja, Fathi Faiha akan teriak kegirang…teriak-teriak, melompat-lompat….Benar-benar sangat dibutuhkan sosok seorang ibu dan ayah bagi anak-anak terutama selama masih balita…

Terbayang pula selama ini…aku selalu penasaran untuk bisa bekerja. coba dan coba terus… sebenarnya abinya Fathi ingin aku bekerja di rumah saja seperti bisnis dan menulis. Tapi memang, setiap aku ingin bekerja abinya Fathi memang mendukung, dalam artian mengantar di manapun aku melakukan tes kalau memang agak jauh. Tes CPNS pun selalu aku ikutin kecuali pada saat bersamaan aku bersalin.. Alhamdulillah ALLAH masih mempertahankan diriku untuk selalu mengasuh dan menjaga anak-anak di rumah. Sampai akhirnya ada tawaran kerja dari seorang temen. Awalnya aku seneng tapi akhirnya bimbang, bagaiman dengan anak-anakku,dengan siapa mereka nanti meleati hari2nya yanng masih begitu belia, butuh stimulus yang banyak dan tepat. Akhirnya aku memilih tidak mengambil pekerjaan itu.

Abinya Fathi juga sangat mendukungku untuk melanjutkan kuliah ke PAsca Sarjana. Sekitar bulan Juni tahun 2011 ini terbesit di benah kami untuk kembali ke Solo.  Bermaksud mengabdi kepada orang tua. Rencana kami, abinya Fathi kos di Jakarta pusat, kemudian aku tinggal bersama orang tuaku. Di Solo aku berencana memikirkan dan segera memulai bisnis dan menulis, kemudian aku juga berencana untuk kuliah. Karena kami pikir kalau di Solo, misalkan anak-anak aku tinggal untuk berbagai urusan, bisa dititipkan kepada ibu. Tapi semua itu sekarang masih terkubur sebatas angan. Beberapa sharing dengan teman dan orang yang berpengalaman mengakibatkan niatku dan rencanaku runtuh. Akankah Fathi dan Faiha akan berpisah dengan abinya walau cuma dalam hitungan minggu? karena direncanakan abi akan pulang tiap pekan.

Beberapa hal yang telah mematahkan rencanaku :

1. Mendengar seorang ibu yang telah mempunyai cucu merasa sangat payah mengasuh cucu-cucunya yang ditinggal bekerja ibunya. Aku pun sangat makhlum, bukan bermaksud tidak senang mengasuh cucu, tapi aku yang jauh lebih muda pun sangat kepayahan mengasuh anak yang lagi aktif-aktifnya. makanya tidak tega kalau ibuku harus mengasuh cucu dengan full seharian, walau ibuku sangat senang mengasuh cucu-cucunya.

2. Sharing dari seorang teman yang pernah pengalaman pisah kota dengan suaminya. karena sang istri menempuh pendidikan di luar kota. Merasa banyak hak dan kewajiban sebagai suami istri yang terabaikan. hak anak pun banyak yang terabaikan, dan kasih sayang nenek yang memanjakan yang berakibat kurang baik ke anak. Dan beliau berpesan kalaupun ingin sekolah lagi coba jangan sampai berpisah karena di luar kota

3. Saran dan cerita dari seorang teman yang bekerja sebagai PNS. Kalau mau bekerja coba pikir kembali, karena beliau merasa ada masa yang terlewatkan terhadap anak yang pertama dan ke dua. Sampai beliau berkata kalau waktu bisa kembali ingin rasanya mengulang dan selalu mendampingi anak -anak beliau.

4 Nasehat dari seorang bunda yang bijaksana dan penyabar, bahwa masa anak-anak sangatlash singkat, maka tugas kita untuk selalu memberikan kesenangan kepada anak dalam batas yang wajar. Segala tindakan pertimbangkan baik buruknya, dan pertimbangan harus anak sebagai fokus utama

5. Cerita dari sepupu yang merasa anak-anaknya kehilangan figur seorang ayah dan mencari figur pengganti selama ditinggal ayahnya bekerja ke luar negeri. Dan inipun aku alami sendiri seperti cerita di atas.

6. Melihat beberapa anak yang tidak maksimal tumbuh kembangnya secara psikis karena masa anaknya tidak didampingi kedua orangtuanya walaupun diasuh oleh orang yang begitu menyayangi dan mencintainya.

Dari beberapa pertimbangan dan masukan, akhirnya aku putuskan aku tetap mendampingin suamiku dan tetap menyatukan anak-anakku dalam kesehariannya dengan abinya. Semoga apa yang aku lakukan dapat memaksimalkan tumbuh dan kembang anak-anakku  secara fisik dan psikir. Menjadi jiwa-jiwa yang tangguh dan mulia…

Thanks for ALLAH yang selalu membimbing dan memberikan jalan terbaik kepada kami… Kami memang sering mengabaikanMU ya ALLAH tapi KAU tetap memberi kami kebaikan.. Semoga Rahmat dan HidayahMU selalu terpancar kepada kami…Amin…amin…amin Ya Rabbal ‘alamin… Terima kasih kepada teman-teman yang banyak memberi kritk dan saran sehingga kami mantap menjalani pilih kami…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: