Faihana hikari firdaus Corporation

Just another WordPress.com site

Sebagian alasan kenapa dokter-dokter di negara-negara maju “pelit” mengasih obat buat anak yang lagi sakit

by Abdul Aziz Djunaidi on Friday, April 8, 2011 at 10:38am

Sharing, semoga berguna buat yang membaca…

 

(dikutip dari buku “Smart Patient” karya dr. Agnes Tri Harjaningrum)

** Dimana Salahnya?**

 

Malik tergolek lemas. Matanya sayu. Bibirnya pecah-pecah. Wajahnya

kian tirus. Di mataku ia berubah seperti anak dua tahun kurang gizi.

Biasanya aku selalu mendengar celoteh dan tawanya di pagi hari. Kini

tersenyum pun ia tak mau. Sesekali ia muntah. Dan setiap melihatnya

muntah, hatiku tergores-gores rasanya. Lambungnya diperas

habis-habisan seumpama ampas kelapa yang tak lagi bisa mengeluarkan

santan. Pedih sekali melihatnya terkaing-kaing seperti itu.

 

Waktu itu, belum sebulan aku tinggal di Belanda, dan putraku Malik

terkena demam tinggi. Setelah tiga hari tak juga ada perbaikan aku

membawanya ke huisart (dokter keluarga) kami, dokter Knol namanya.

 

“Just wait and see. Don’t forget to drink a lot. Mostly this is a

viral infection.” kata dokter tua itu.

 

“Ha? Just wait and see? Apa dia nggak liat anakku dying begitu?”

batinku meradang. Ya…ya…aku tahu sih masih sulit untuk menentukan

diagnosa pada kasus demam tiga hari tanpa ada gejala lain. Tapi masak

sih nggak diapa-apain. Dikasih obat juga enggak! Huh! Dokter Belanda

memang keterlaluan! Aku betul-betul menahan kesal.

 

“Obat penurun panas Dok?” tanyaku lagi.

 

“Actually that is not necessary if the fever below 40 C.”

 

Waks! Nggak perlu dikasih obat panas? Kalau anakku kenapa-kenapa

memangnya dia mau nanggung? Kesalku kian membuncah.

 

Tapi aku tak ingin ngeyel soal obat penurun panas. Sebetulnya di rumah

aku sudah memberi Malik obat penurun panas, tapi aku ingin dokter itu

memberi obat jenis lain. Sudah lama kudengar bahwa dokter disini pelit

obat. Karena itu aku membawa setumpuk obat-obatan dari Indonesia,

termasuk obat penurun panas.

 

Dua hari kemudian, demam Malik tak kunjung turun dan frekuensi

muntahnya juga bertambah. Aku segera kembali ke dokter. Tapi si dokter

tetap menyuruhku wait and see. Pemeriksaan laboratorium baru akan

dilakukan bila panas anakku menetap hingga hari ke tujuh.

 

“Anakku ini suka muntah-muntah juga Dok,” kataku.

 

Lalu si dokter menekan-nekan perut anakku. “Apakah dia sudah minum suatu obat?”

 

Aku mengangguk. “Ibuprofen syrup Dok,” jawabku.

 

Eh tak tahunya mendengar jawabanku, si dokter malah

ngomel-ngomel,”Kenapa kamu kasih syrup Ibuprofen? Pantas saja dia

muntah-muntah. Ibuprofen itu sebaiknya tidak diberikan untuk

anak-anak, karena efeknya bisa mengiritasi lambung. Untuk anak-anak

lebih baik beri paracetamol saja.”

 

Huuh! Walaupun dokter itu mengomel sambil tersenyum ramah, tapi aku

betul-betul jengkel dibuatnya. Jelek-jelek begini gue lulusan fakultas

kedokteran tau! Nah kalau buat anak nggak baik kenapa di Indonesia

obat itu bertebaran! Batinku meradang.

 

Untungnya aku masih bisa menahan diri. Tapi setibanya dirumah, suamiku

langsung menjadi korban kekesalanku.”Lha wong di Indonesia, dosenku

aja ngasih obat penurun panas nggak pake diukur suhunya je. Mau 37

keq, 38 apa 39 derajat keq, tiap ke dokter dan bilang anakku sakit

panas, penurun panas ya pasti dikasih. Sirup ibuprofen juga dikasih

koq ke anak yang panas, bukan cuma parasetamol. Masa dia bilang

ibuprofen nggak baik buat anak!” Seperti rentetan peluru, kicauanku

bertubi-tubi keluar dari mulutku.

 

“Mana Malik nggak dikasih apa-apa pulak, cuma suruh minum parasetamol

doang, itu pun kalau suhunya diatas 40 derajat C! Duuh memang

keterlaluan Yah dokter Belanda itu!”

 

Suamiku menimpali, “Lho, kalau Mama punya alasan, kenapa tadi nggak

bilang ke dokternya?”

 

Aku menarik napas panjang. “Hmm…tadi aku sudah kadung bete sama si

dokter, rasanya ingin buru-buru pulang saja. Tapi…alasannya apa ya?”

 

Mendadak aku kebingungan. Aku akui, sewaktu praktek menjadi dokter

dulu, aku lebih banyak mencontek apa yang dilakukan senior. Tiga bulan

menjadi co-asisten di bagian anak memang membuatku kelimpungan dan

belajar banyak hal, tapi hanya secuil-secuil ilmu yang kudapat. Persis

seperti orang yang katanya travelling keliling Eropa dalam dua minggu.

Menclok sebentar di Paris, lalu dua hari pergi ke Roma. Dua hari di

Amsterdam, kemudian tiga hari mengunjungi Vienna. Puas beberapa hari

berdiam di Berlin dan Swiss, kemudian waktu habis. Tibalah saatnya

pulang lagi ke Indonesia. Tampaknya orang itu sudah keliling Eropa,

padahal ia hanya mengunjungi ibukota utama saja. Masih banyak sekali

negara dan kota-kota di Eropa yang belum disambanginya. Dan itu lah

yang terjadi pada kami, pemuda-pemudi fresh graduate from the oven

Fakultas Kedokteran. Malah kadang-kadang apa yang sudah kami pelajari

dulu, kasusnya tak pernah kami jumpai dalam praktek sehari-hari.

Berharap bisa memberikan resep cespleng seperti dokter-dokter senior,

akhirnya kami pun sering mengintip resep ajian senior!

 

Setelah Malik sembuh, beberapa minggu kemudian, Lala, putri pertamaku

ikut-ikutan sakit. Suara Srat..srut..srat srut dari hidungnya

bersahut-sahutan. Sesekali wajahnya memerah gelap dan bola matanya

seperti mau copot saat batuknya menggila. Kadang hingga bermenit-menit

batuknya tak berhenti. Sesak rasanya dadaku setiap kali mendengarnya

batuk. Suara uhuk-uhuk itu baru reda jika ia memuntahkan semua isi

perut dan kerongkongannya. Duuh Gustiiii…kenapa tidak Kau pindahkan

saja rasa sakitnya padaku Nyerii rasanya hatiku melihat rautnya yang

seperti itu. Kuberikan obat batuk yang kubawa dari Indonesia pada

putriku. Tapi batuknya tak kunjung hilang dan ingusnya masih meler

saja. Lima hari kemudian, Lala pun segera kubawa ke huisart. Dan

lagi-lagi dokter itu mengecewakan aku.

 

“Just drink a lot,” katanya ringan.

 

Aduuuh Dook! Tapi anakku tuh matanya sampai kayak mata sapi melotot

kalau batuk, batinku kesal.

 

“Apa nggak perlu dikasih antibiotik Dok?” tanyaku tak puas.

 

“This is mostly a viral infection, no need for an antibiotik,” jawabnya lagi.

 

Ggrh…gregetan deh rasanya. Lalu ngapain dong aku ke dokter, kalo tiap

ke dokter pulang nggak pernah dikasih obat. Paling enggak kasih

vitamin keq! omelku dalam hati.

 

“Lalu Dok, buat batuknya gimana Dok? Batuknya tuh betul-betul

terus-terusan,” kataku ngeyel.

 

Dengan santai si dokter pun menjawab,”Ya udah beli aja obat batuk

Thyme syrop. Di toko obat juga banyak koq.”

 

Hmm…lumayan lah… kali ini aku pulang dari dokter bisa membawa obat,

walau itu pun harus dengan perjuangan ngeyel setengah mati dan walau

ternyata isi obat Thyme itu hanya berisi ekstrak daun thyme dan madu.

 

“Kenapa sih negara ini, katanya negara maju, tapi koq dokternya kayak

begini.” Aku masih saja sering mengomel soal huisart kami kepada

suamiku. Saat itu aku memang belum memiliki waktu untuk berintim-intim

dengan internet. Jadi yang ada di kepalaku, cara berobat yang betul

adalah seperti di Indonesia. Di Indonesia, anak-anakku punya langganan

beberapa dokter spesialis anak. Dokter-dokter ini pernah menjadi

dosenku ketika aku kuliah. Maklum, walaupun aku lulusan fakultas

kedokteran, tapi aku malah tidak pede mengobati anakanakku sendiri.

Dan walaupun anak-anakku hanya menderita penyakit sehari-hari yang

umum terjadi pada anak seperti demam, batuk pilek, mencret, aku tetap

membawa mereka ke dokter anak. Meski baru sehari, dua atau tiga hari

mereka sakit, buru-buru mereka kubawa ke dokter. Tak pernah aku pulang

tanpa obat. Dan tentu saja obat dewa itu, sang antibiotik, selalu ada

dalam kantong plastik obatku.

 

Tak lama berselang putriku memang sembuh. Tapi sebulan kemudian ia

sakit lagi. Batuk pilek putriku kali ini termasuk ringan, tapi hampir

dua bulan sekali ia sakit. Dua bulan sekali memang lebih mendingan

karena di Indonesia dulu, hampir tiap dua minggu ia sakit. Karena

khawatir ada yang tak beres, lagi-lagi aku membawanya ke huisart.

 

“Dok anak ini koq sakit batuk pilek melulu ya, kenapa ya Dok.”

 

Setelah mendengarkan dada putriku dengan stetoskop, melihat tonsilnya,

dan lubang hidungnya,huisart-ku menjawab,”Nothing to worry. Just a

viral infection.”

 

Aduuuh Doook… apa nggak ada kata-kata lain selain viral infection seh!

Lagilagi aku sebal.

 

“Tapi Dok, dia sering banget sakit, hampir tiap sebulan atau dua bulan

Dok,” aku ngeyel seperti biasa.

 

Dokter tua yang sebetulnya baik dan ramah itu tersenyum. “Do you know

how many times normally children get sick every year?”

 

Aku terdiam. Tak tahu harus menjawab apa. “enam kali,” jawabku asal.

 

“Twelve time in a year, researcher said,” katanya sambil tersenyum

lebar. “Sebetulnya kamu tak perlu ke dokter kalau penyakit anakmu tak

terlalu berat,” sambungnya.

 

Glek! Aku cuma bisa menelan ludah. Dijawab dengan data-data ilmiah

seperti itu, kali ini aku pulang ke rumah dengan perasaan malu.

Hmm…apa aku yang salah? Dimana salahnya? Ah sudahlah…barangkali si

dokter benar, barangkali memang aku yang selama ini kurang belajar.

 

Setelah aku bisa beradaptasi dengan kehidupan di negara Belanda, aku

mulai berinteraksi dengan internet. Suatu saat aku menemukan artikel

milik Prof. Iwan Darmansjah, seorang ahli obat-obatan dari Fakultas

Kedokteran UI. Bunyinya begini: “Batuk – pilek beserta demam yang

terjadi sekali-kali dalam 6 – 12 bulan sebenarnya masih dinilai wajar.

Tetapi observasi menunjukkan bahwa kunjungan ke dokter bisa terjadi

setiap 2 – 3 minggu selama bertahun-tahun.” Wah persis seperti yang

dikatakan huisartku, batinku. Dan betul anak-anakku memang sering

sekali sakit sewaktu di Indonesia dulu.

 

“Bila ini yang terjadi, maka ada dua kemungkinan kesalahkaprahan dalam

penanganannya,” Lanjut artikel itu. “Pertama, pengobatan yang

diberikan selalu mengandung antibiotik. Padahal 95% serangan batuk

pilek dengan atau tanpa demam disebabkan oleh virus, dan antibiotik

tidak dapat membunuh virus. Di lain pihak, antibiotik malah membunuh

kuman baik dalam tubuh, yang berfungsi menjaga keseimbangan dan

menghindarkan kuman jahat menyerang tubuh. Ia juga mengurangi imunitas

si anak, sehingga daya tahannya menurun. Akibatnya anak jatuh sakit

setiap 2 – 3 minggu dan perlu berobat lagi.

 

Lingkaran setan ini: sakit –> antibiotik-> imunitas menurun -> sakit

lagi, akan membuat si anak diganggu panas-batuk-pilek sepanjang tahun,

selama bertahun-tahun.”

 

Hwaaaa! Rupanya ini lah yang selama ini terjadi pada anakku.

Duuh…duuh..kemana saja aku selama ini sehingga tak menyadari kesalahan

yang kubuat sendiri pada anak-anakku. Eh..sebetulnya..bukan salahku

dong. Aku kan sudah membawa mereka ke dokter

spesialis anak. Sekali lagi, mereka itu dosenku lho! Masa sih aku tak

percaya kepada mereka. Dan rupanya, setelah di Belanda ‘dipaksa’ tak

lagi pernah mendapat antibiotik untuk penyakit khas anak-anak

sehari-hari, sekarang kondisi anak-anakku jauh lebih baik. Disini,

mereka jadi jarang sakit, hanya diawal-awal kedatangan saja mereka

sakit.

 

Kemudian, aku membaca lagi artikel-artikel lain milik prof Iwan

Darmansjah. Dan di suatu titik, aku tercenung mengingat kata-kata

‘pengobatan rasional’. Lho…bukankah dulu aku juga pernah mendapatkan

kuliah tentang apa itu pengobatan rasional. Hey! Lalu kemana perginya

ingatan itu? Jadi, apa yang selama ini kulakukan, tidak meneliti

baik-baik obat yang kuberikan pada anak-anakku, sedikit-sedikit

memberi obat penurun panas, sedikit-sedikit memberi antibiotik, baru

sehari atau dua hari anak mengalami sakit ringan seperti, batuk,

pilek, demam, mencret, aku sudah panik dan segera membawa anak ke

dokter, serta sedikit-sedikit memberi vitamin. Rupanya adalah tindakan

yang sama sekali tidak rasional! Hmm… kalau begitu, sistem kesehatan

di Belanda adalah sebuah contoh sistem yang menerapkan betul apa itu

pengobatan rasional.

 

Belakangan aku pun baru mengetahui bahwa ibuprofen memang lebih

efektif menurunkan demam pada anak, sehingga di banyak negara termasuk

Amerika Serikat, ibuprofen dipakai secara luas untuk anakanak. Tetapi

karena resiko efek sampingnya lebih besar, Belgia dan Belanda

menetapkan kebijakan lain. Walaupun obat ibuprofen juga tersedia di

apotek dan boleh digunakan untuk usia anak diatas 6 bulan, namun di

kedua negara ini, parasetamol tetap dinyatakan sebagai obat pilihan

pertama pada anak yang mengalami demam. “Duh, untung ya Yah aku nggak

bilang ke huisart kita kalo aku ini di Indonesia adalah seorang

dokter. Kalo iya malu-maluin banget nggak sih, ketauan begonya hehe,”

kataku pada suamiku.

 

Jadi, bagaimana dengan para orangtua di Indonesia? Aku tak ingin

berbicara terlalu jauh soal mereka-mereka yang tinggal di desa atau

orang-orang yang terpinggirkan, ceritanya bisa lain. Karena kekurangan

dan ketidakmampuan, untuk kasus penyakit anak sehari-hari, orang-orang

desa itu malah relatif ‘terlindungi’ dari paparan obat-obatan yang tak

perlu. Sementara kita yang tinggal di kota besar, yang cukup berduit,

sudah melek sekolah, internet dan pengetahuan, malah kebanyakan selalu

dokter-minded dan gampang dijadikan sasaran oleh perusahaan obat dan

media. Batuk pilek sedikit ke dokter, demam sedikit ke dokter, mencret

sedikit ke dokter. Kalau pergi ke dokter lalu tak diberi obat,

biasanya kita malah ngomel-ngomel, ‘memaksa’ agar si dokter memberikan

obat. Iklan-iklan obat pun bertebaran di media, bahkan tak jarang

dokter-dokter ‘menjual’ obat tertentu melalui media. Padahal mestinya

dokter dilarang mengiklankan suatu produk obat.

 

Dan bagaimana pula dengan teman-teman sejawatku dan dosen-dosenku yang

kerap memberikan antibiotik dan obat-obatan yang tidak perlu pada

pasien batuk, pilek, demam, mencret? Malah aku sendiri dulu pun

melakukannya karena nyontek senior. Apakah manfaatnya lebih besar

dibandingkan resikonya? Tentu saja tidak. Biaya pengobatan membengkak,

anak malah gampang sakit dan

terpapar obat yang tak perlu. Belum lagi bahaya besar jelas mengancam

seluruh umat manusia: superbug, resitensi antibiotik! Tapi mengapa

semua itu terjadi?

 

Duuh Tuhan, aku tahu sesungguhnya Engkau tak menyukai sesuatu yang

sia-sia dan tak ada manfaatnya. Namun selama ini aku telah alpa.

Sebagai orangtua, bahkan aku sendiri yang mengaku lulusan fakultas

kedokteran ini, telah terlena dan tak menyadari semuanya. Aku tak akan

eling kalau aku tidak menyaksikan sendiri dan tidak tinggal di negeri

kompeni ini. Apalagi dengan masyarakat awam, para orangtua baru yang

memiliki anak-anak kecil itu. Jadi bagaimana mengurai keruwetan ini

seharusnya? Uh! Memikirkannya aku seperti terperosok ke lubang raksasa

hitam. Aku tak tahu, sungguh!

 

Tapi yang pasti kini aku sadar…telah terjadi kesalahan paradigma pada

kebanyakan kita di Indonesia dalam menghadapi anak sakit. Disini aku

sering pulang dari dokter tanpa membawa obat. Aku ke dokter biasanya

‘hanya’ untuk konsultasi, memastikan diagnosa penyakit anakku dan

penanganan terbaiknya, serta meyakinkan diriku bahwa anakku baik-baik

saja. Tapi di Indonesia, bukankah paradigma yang masih kerap dipegang

adalah ke dokter = dapat obat? Sehingga tak jarang dokter malah tidak

bisa bertindak rasional karena tuntutan pasien. Aku juga sadar sistem

kesehatan di Indonesia memang masih ruwet. Kebijakan obat nasional

belum berpihak pada rakyat. Perusahaan obat bebas beraksi‘ tanpa ada

peraturan dan hukum yang tegas dari pemerintah. Dokter pun bebas

meresepkan obat apa saja tanpa ngeri mendapat sangsi. Intinya, sistem

kesehatan yang ada di Indonesia saat ini membuat dokter menjadi sulit

untuk bersikap rasional.

 

Lalu dimana ujung pangkal salahnya? Ah rasanya percuma mencari-cari

ujung pangkal salahnya. Menunjuk siapa yang salah pun tak ada gunanya.

Tapi kondisi tersebut jelas tak bisa dibiarkan. Siapa yang harus

memulai perubahan? Pemerintah, dokter, petugas kesehatan, perusahaan

obat, tentu semua harus berubah. Namun, dalam kondisi seperti ini,

mengharapkan perubahan kebijakan pemerintah dalam waktu dekat sungguh

seperti pungguk merindukan bulan. Yang pasti, sebagai pasien kita pun

tak bisa tinggal diam. Siapa bilang pasien tak punya kekuatan untuk

merubah sistem kesehatan? Setidaknya, bila pasien ‘bergerak’, masalah

kesehatan di Indonesia, utamanya kejadian pemakaian obat yang tidak

rasional dan kesalahan medis tentu bisa diturunkan.

1 Komentar

  1. thanks, ambil dr temen….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: