Faihana hikari firdaus Corporation

Just another WordPress.com site

DI SETIAP NAFASMU ADALAH KEBAIKAN

Mengenalnya adalah suatu hal yang sangat kusyukuri, banyak hikmah yang dapat ku ambil. Melihatnya pertama kali hanya sedikit kesan, yaitu banyak orang mengenal dan senang bergaul dengannya. Walau selama ini aku beraktivitas di lingkungan yang sama, tapi sungguh aku merasa sangat terlambat mengenalnya. Alhamdulillah, ALLAH mengijinkan aku mengenalnya lebih dekat.

“Mbak, kenal dengan Bu Dewi nggak?”, tanya penghuni asrama ini.

“Ga.”, jawabku singkat.

“Itu tuh mbak! Ayuk aku kenalin!”, ajak Nina kala itu. Akhirnya aku berkenalan juga sama Mbak Dewi. Mbak Dewi seorang guru. itu yang kutahu awalnya. Dan seiring waktu, walau aku jarang ketemu sama Mbak Dewi tapi aku mulai mengenalnya lebih dekat. Mbak Dewi seorang yang ramah, kocak, dan baik hati. Itulah sebabnya banyak yang menyukainya di asrama ini. Dari anak-anak sampai ibu-ibu…Subhanallah….

Pada suatu kesempatan, aku akhirnya bisa berkunjung juga ke rumahnya. Rumahnya sangat sederhana, tapi rapi dan bersih, apalagi depan rumahnya, di sela-sela sisa tanah untuk bangunan, terdapat pot-pot tanaman yang tertata rapi dan nampak sangat terurus sekali… Sederhana tapi sejuk, nyaman, dan indah.

Di rumah Mbak Dewi, aku dan teman-teman dijamu dengan special. Sungguh sangat bahagia dan bersyukurnya aku dengan karunia ini. Mbak Dewi bercerita bahwa di rumahnya ada tiga orang termasuk dirinya. Tinggal bersama kedua orang kakaknya. Kakaknya yang besar sedang sakit, begitu ceritanya.

Pada suatu waktu,aku diberi kesempatan oleh ALLAH untuk mengenal Mbak Dewi lebih dekat. Kepulanganku ke kota asal, membuat aku sangat merindukan kota kedua bagiku yaitu dimana aku menimba ilmu di perguruan tinggi dan pengalaman-pengalaman yang membuatku sedikit lebih dewasa, may be.

Setelah mengikuti pelatihan di Kota Gudeg selama tiga bulan, ibu menahanku untuk tetap di rumah. Terasa sepi, kehidupanku terasa berada di kota kembang itu. Dan akhirnya, waktu yang tepat aku untuk kembali ke Bandung. Ada pelatihan entrepreneur selama tiga bulan juga. Aku minta ijin ke orang tua untuk kembali ke Bandung. Dengan sangat berat hati, ibu mengijinkanku. Dan yang menjadi masalah adalah di mana aku harus tinggal. Aku ingat mbak Dewi, rumah beliau dekat dengan tempat aku pelatihan, siapa tahu beliau bisa memberiku jalan.

“Mbak, aku mau pelatihan di dekat rumah mbak. Ada ga mbak di daerah situ tempat kos yang murah?,” tanyaku lewat telepon kepada Mbak Dewi.

“Di sini banyak Ri, ada kosan untuk pekerja dan pelajar. Ehmmm, kalau mau tinggal di tempatku saja juga nggak apa-apa. Kalau Riri mau, kan Riri tahu sendiri keadaan rumahku dan kakakku.”, kata Mbak Dewi panjang lebar.

Akhirnya aku memutuskan tinggal di tempat Mbak Dewi, selain akan menghemat pengeluaran karena tidak perlu mengeluarkan uang untuk kos. Aku akan bisa lebih banyak mengenal Mbak Dewi dan yang jelas akan menambah pengalamanku.

Pelatihanku rutin dilaksanakan setiap hari senin sampai jumat dari pukul 08.00 sampai 17.00 WIB. Di hari Sabtu dan Minggu, aku biasanya menghabiskan waktu bepergian bersama mbak Dewi, entah itu ke pengajian, atau sekedar jalan-jalan. Kadang kalanya kami hanya sekedar berada di rumah untuk mncoba masakan-masakan tertentu.

Mbak Dewi sangatlah baik, begitu juga dengan keluarganya. Mbak Dewi seorang yang sangat sabar dan lembut. Beliau tempat curhat anak-anak dari asrama Wyata Guna. Selain aktivitasnya sebagai guru yaitu mengajar, Mbak Dewi juga merawat kakaknya yang sedang sakit. Dengan telaten Mbak Dewi menyiapkan makan dan minum kakaknya ini. Membersihkan kamarnya, kadang kala juga membersihkan badan kakaknya pula. Berbagai upaya telah Mbak Dewi lakukan baik secara medis ataupun alternatif, tapi kesabaran Mbak Dewi tidaklah habis. Merawat kakaknya terus dijalaninya dengan ikhlas. Adakalanya kakaknya diajak keluar untuk sekedar olah raga di depan rumah ataupun jalan-jalan keliling  lingkungan rumahnya.

Mbak Dewi, sosok yang sangat mengagumkan bagiku. Banyak hal yang bisa aku lihat dari sosok beliau yang sangat positif. Tapi sungguh, untuk mentauladaninya diri ini serasa sangat sulit. Beliau sangat menghormat tamu. Selalu memaksimalkan sajian untuk tamu yang datang. Selama tiga bulan aku di tmpatnya,sungguh selalu diperlakukan dengan baik, selalu dijamu dengan baik. Bayangkan! 3 bulan, bukan waktu yang singkat.

Mbak Dewi seorang yang sangat tertata menurutku. Rumahnya sangat sederhana, begitu pula dengan isinya. Semuanya serba rapi dan bersih. Di balik kesederhanaannya itu, mbak Dewi bercerita bahwa beliau telah menunaikan ibadah haji dari hasil tabungannya dari sekolah Menengah Pertama. Subhanallah…Sungguh luar biasa. Selain itu Mbak Dewi juga telah mempunyai rumah sendiri, yang dikontrakan karena rumah yang sekarang ditinggali adalah rumah kontrakan, dengan alasan dekat dengan tempat kerja. Selain itu mbak Dewi mmpunyai puluhan juta saham di Butik muslimah. Subhanallah… Tapi penampilan Mbak Dewi sungguh sangat tidak mencerminkan semuanya. Sosok yang sangat langka untuk sekarang ini.

Selain semua aktivitasnya dalam keluarga dan untuk dirinya, mbak Dewi juga aktif membantu anak-anak yang membutuhkannya seperti anak tuna netra yang membutuhkan teman untuk sekedar berbagi, membacakan atau menuliskan mereka, membantu aktivitas belajarnya anak-anak tuna netra.

Tentang semua kesabaran yang telah dijalaninya, Allah  memberikan kepercayaan…. Tentang ujian yang kadang melenakan  Mbak Dewi tetap teguh menjalani sesuai syariatNya. Tidak sesuatu diambil hanya untuk sebuah kebahagiaan yang semu tapi kesenangan yang hakiki, pilih dan pilah secara dewasa dan tepat.

Mbak Dewi ini selain jiwanya yang sehat raganya pun kuat, bagaimana tidak selepas sholat subuh, mengaji, kakinya mengayuh atau pun melangkah ke lapangan untuk penyegaran raga… Lapangan tempat yang biasa digunakan sendiri untuk menuju kesana sudah merupakan olah raga, belum ditambah keliling marathon beberapa kali. Sungguh, great woman. Aku yang jauh lebih muda jauh tertinggal di belakang. Selain kebiasannya berolahraga teratur, beliau suka sekali dengan travelling. Berbagai tempat telah beliau kunjungin. Sungguh sangat menyenangkan…

Hmmm, aku sendiri merasa sangat jarang menemui sosok seprti mbakku yang satu ini. Tentang kesabarannya, ketelatenannya, ketaqwaannya yang istiqomah, jiwa dan raga yang sehat.

Terima kasih yang tak terhingga kepada mbak Dewi yang telah memberikan banyak ilmu  kepadaku. Dengan segala kekuranganku, Mbakku ini selalu sabar membimbingku… Semoga aku bisa mentauladaninya. Terima kasih atas kebaikan-kebaikannya kepada diriku. Tidak ada yang bisa membalasnya kecuali kebesaran ALLAH…. Semoga ALLAH selalu melindungi dan memberikan hidayah kepadanya dan meridhoi setiap langkahnya.  Amin…Amin Ya Rabb…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: