Faihana hikari firdaus Corporation

Just another WordPress.com site

Kau Berkarya dalam Kegelapan

Oleh Andiri Rumanggar

Bagi sebagian dari kita, kata ”tunanetra” mungkin hanya didengar di dalam pelajaran di sekolah. Kita hanya tahu, tunanetra adalah orang yang tidak bisa melihat. Mungkin kita pernah melihat tunanetra di bus umum atau kereta api. Tapi selebihnya, bagaimana pendidikan dan aktivitas mereka, kita yang ”orang awas”(Punya penglihatan normal) sering kali tidak tahu atau bahkan tidak mau tahu. Padahal, kehidupan saudara kita yang tunanetra ini sungguh luar biasa. Mereka adalah sosok yang tangguh. Kehidupan mereka bisa dikatakan tidak berbeda dengan kehidupan kita yang awas ini. Aktivitas mereka juga sama dengan aktivitas kita yang awas. Hanya bedanya, kita beraktivitas dengan dukungan penglihatan yang normal, sedang mereka beraktivitas dengan sedikit cahaya atau bahkan dalam kegelapan. Saudara kita ini, dengan keterbatasan dalam penglihatan, menjadi lebih peka dalam hal perasaan, perabaan, pendengaran, maupun ingatannya. Ini berbeda dengan kita yang awas. Karena terbiasa mengandalkan penglihatan, fungsi indera kita yang lain jadi kurang terlatih. Aku teringat pada saat pertama kali berkenalan dengan dunia tunanetra.

Ajakan seorang teman untuk membantu saudara kita yang tunanetra itu sudah beberapa kali tertunda oleh aktivitas-aktivitas berbau kepentingan pribadi. Tapi keinginan itu makin lama makin menguat, dan akhirnya kaki ini melangkah juga mengunjungi saudara kita yang tunanetra. Pada suatu hari Minggu beberapa tahun yang lalu, bersama seorang teman, aku pergi ke sebuah asrama tunanetra. Begitu memasuki gerbang asrama putri, timbul rasa canggung di hatiku. Aku terheran-heran melihat beberapa orang tunanetra sedang duduk sambil belajar. Mereka belajar bersama orang awas yang bertindak sebagai pendamping yang membantu membacakan dan menuliskan jawaban soal dalam huruf latin di kertas. Di kalangan tunanetra, pendamping seperti ini disebut reader atau pembaca. Sepintas timbul rasa kasihan, tapi kemudian muncullah rasa kagum yang dalam; semangat belajar mereka tinggi sekali. Teman yang pergi bersamaku ke asrama ini adalah seorang pendamping juga. Dia sedang membantu mengerjakan tugas akhir salah satu saudara kita yang tunanetra. Kuamati cara mereka belajar, mendengarkan reader, menulis, dan semua tingkah laku mereka. Sungguh sangat menarik! Mereka menulis dengan cara melubangi kertas menggunakan alat bantu. Huruf Braille, itu nama huruf yang mereka gunakan untuk baca tulis. Sewaktu di sekolah, aku hanya pernah mendengar kata Braille tanpa tahu seperti apa bentuk huruf itu. Tapi sekarang, aku tahu seperti apa huruf Braille itu.

Tiba-tiba aku melihat seorang tunanetra perempuan yang membutuhkan bantuan reader. Kamipun berkenalan; namanya Rosi. Ternyata Rosi membutuhkan reader bukan untuk dirinya, tapi untuk temannya. Itulah awal perkenalan diriku dengan Rosi, salah satu penghuni asrama putri yang baru saja menjadi mahasiswi di sebuah perguruan tinggi swasta. Rosi sepintas terlihat pendiam, tetapi ternyata dia anak yang ramai dan suka tertawa. Pertama berkenalan, kami tidak begitu akrab, karena aku lebih sering membantu belajar anak-anak SMP dan SMA yang sedang menghadapi ujian nasional. Tapi kemudian, aku sering berkunjung ke kamarnya untuk sekedar mengobrol. Rosi menjadi tunanetra dari kecil, mungkin sejak bayi. Waktu itu suhu badannya begitu tinggi sehingga merusak syaraf matanya. Sungguh sebuah takdir yang harus dia jalani.

Dari obrolanku bersama Rosi, banyak pengalaman dan pelajaran yang dapat kuambil. Aku mulai memahami bahwa ketunanetraan bagi seseorang, termasuk bagi perempuan tunanetra bukanlah halangan untuk berpendidikan tinggi dan berkarya. Seperti Rosi, seorang yang sangat aktif dan tidak bisa diam. Kegiatan apa pun, sebisa mungkin akan dia ikuti. Dia menjalani semua aktivitas dengan penuh semangat tanpa rasa canggung. Sejak kecil, Rosi telah merantau memperjuangkan masa depannya. Dia rela berpisah dari orang tuanya agar bisa sekolah setinggi mungkin. Pergi dan pulang ke kampung halaman biasa dia jalani sendiri dengan naik bus antarkota. Rosi seorang yang sangat aktif, baik di kegiatan kampus maupun di dalam dan luar lingkungan asrama. Di lingkungan asrama, Rosi aktif sebagai remaja masjid. Kepiawaian dan pengalaman dalam berorganisasi telah menjadikan dia sebagai salah satu staf pengurus masjid di asrama. Gagasan cermelang sering kali dilontarkannya dalam setiap kegiatan. Selain aktif sebagai remaja masjid, Rosi juga aktif memperjuangkan hak-hak kaum tunanetra untuk mendapat pendidikan dan fasilitas dari negara. Rosi berani angkat bicara bila melihat sesuatu yang tidak beres di yayasan, terutama dalam hal bantuan dan hak-hak tunanetra dalam pendidikan dan berkarya. Rosi dan teman-temannya juga memperjuangkan nasib adik-adik mereka yang tunanetra agar bisa berpendidikan formal dan mendapat hak yang sesuai dengan aturan dan kebijakan yang ada. Mereka bahkan pernah turun ke jalan dan berdemontrasi di depan Balai Kota. Itu semua mereka jalani demi memperjuangkan kelayakan hidup mereka, baik dalam pendidikan dan pekerjaan. Selain belajar dari sekolah formal dan organisasi, Rosi pun belajar dan mengikuti berbagai pelatihan yang sekiranya bisa mendukung sekolah dan kariernya kelak. Rosi belajar mengoperasikan komputer dan internet. Tidak heran bila Rosi pun suka chatting. Meskipun sibuk membagi waktu untuk semua aktivitasnya, Rosi tetap seorang Rosi yang senang berkawan. Tidak sedikit reader yang kagum dan senang bergaul dengan Rosi, seorang perempuan tunanetra yang aktif dan pandai, yang kapasitas dirinya tidak kalah dengan orang yang awas, bahkan mungkin lebih. Setelah lulus dari kuliahnya, Rosi langsung mendapat pekerjaan. Kini Rosi telah bekerja sebagai Kepala Sekolah sekaligus Guru SLB di sebuah yayasan yang ada di Jawa Tengah. Sungguh luar biasa dirimu, Rosi! Kau adalah seorang tunanetra, tapi dirimu sangat tangguh. Perjuangan dan pengorbananmu tidaklah sia-sia. Kau telah memetik buah dari pohon perjuangan yang kau tanam selama ini. Selamat! Semoga kau terus berjuang demi masa depanmu dan generasimu. Dari kisahmu, banyak pelajaran yang dapat kuambil.

Ternyata tunanetra bukanlah orang yang harus dibedakan. Mereka sama dengan orang yang awas, baik hak maupun kewajibannya. Mereka mungkin mempunyai kekurangan dalam penglihatan, tapi di sisi lain mereka menyimpan banyak kelebihan atau potensi yang mungkin jauh lebih baik daripada yang dimiliki orang awas. Mereka bisa melakukan apa pun yang bisa dikerjakan oleh orang yang awas, selama penglihatan bukan syarat utama dalam melakukan pekerjaan tersebut. Kita sebagai orang yang awas, yang diberikan kesempurnaan dalam penglihatan, selayaknyalah mendukung dan membantu saudara-saudara kita ini. Para tunanetra, khususnya perempuan tunanetra mempunyai hak yang sama untuk berpendidikan setinggi mungkin dan berkarya, untuk berpenghasilan seperti layaknya orang yang dapat melihat dengan sempurna. Terima kasih Rosi, kau telah memberi kami banyak pelajaran. Semoga muncul Rosi-rosi yang lain sebagai generasi penerusmu. ***
Penulis adalah pemenang kehormatan dalam lomba penulisan esei PERTUNI 2007 dengan tema ‘Akses Wanita Tunanetra ke Dunia Kerja’

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: